Hubungan Agama dengan Filsafat


Agama dan Filsafat tidak ada hubungannya, oleh Jalius HR

Agama dan filsafat memainkan fungsi yang  sangat penting dalam sejarah dan kehidupan kebanyakan manusia. Secara inheren tidak ada hubungannya. Namun dapat dihubungkan. Orang-orang yang mengetahui secara mendalam tentang sejarah agama dan filsafat niscaya ia memahami secara baik bahwa pembahasanya  sama sekali tidak membicarakan pertentangan antara keduanya dan juga tidak seorang pun mengingkari peran sentral keduanya. Sebenarnya yang menjadi tema dan inti perbedaan pandangan dan terus menyibukan para pemikir tentangnya sepanjang abad adalah bentuk “hubungan”   dan kesesuaian dua mainstream disiplin ini.  Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas apa itu agama dan apa filsafat serta bentuk hubungannya. Semoga pembaca tidak keliru menyikapinya.

 

Agama

Agama (Islam) dapat dipahami sebagai sebuah Risalah dari Tuhan (Allah) kepada manusia. Risalah yakni seperangkat informasi yang diturunkan oleh Tuhan kepada umat manusia melalui utusan atau Rasul.  Risalah itu mengandung berbagai informasi, terutama:

  1. Informasi mengenai perintah  dan larangan.  Perintah atau suruhan dan larangan ada yang berkenaan dengan sistem kehidupan bermasyarakat (muamalah) dan system ritual, ritus atau perayaan  (sistem beribadah) dan sebagainya.

  2. Berita; misalnya tentang sejarah masa lalu dan yang akan datang,

  3. Penjelasan apa yang baik dan yang buruk atau sebuah proses.

  4. Pemberitahuan, tentang apa yang ada di Langit dan apa yang ada di Bumi. Apa yang akan terjadi dan telah terjadi.

  5. Hukum atau kaedah-kaedah dan sebagainya.

Risalah ini berfungsi atau dapat digunakan oleh manusia sebagai:

  1. Pedoman untuk melakukan sesuatu atau menata sistem kehidupan dalam rangka mencapai kehidupan yang baik (harmonis) di dalam masyarakat dan kehidupan yang lebih baik di kemudian hari.

  2. Sumber pengetahuan tentang alam raya saat ini dan masa salu, termasuk kisah-kisah umat masa lalu.

  3. Sumber hukum, dan sebagainya.

Risalah tersebut biasanya dihimpun dalam sebuah buku yang disebut  kitab-suci (misalnya Al-Quran). Kitab-suci dikembangkan dengan penjelasan (tafsir). Setelah seseorang membaca Risalah tersebut dalam rangka mendapatkan pemahaman dan mempercayainya, kemudian dia beramal sesuai dengan risalah itu. Maka orang tersebut dinyatakan telah beragama.

Ceramah Agama
Khotbah di Masjid salah satu bentuk penyampaian ajaran (pesan) Agama kepada jemaah.

Pada pemahaman seperti itu maka dapat dikatakan, jika seseorang disebut “beragama” berarti dia terlebih dahulu harus mendapatkan ilmu yang ada di dalam Kitab Suci dan berbuat (beramal) menurut pengetahuan tersebut. Berdasarkan pengamalan yang telah dilakukan dan berita pengalaman dari orang lain maka akan menumbuhkan sikap dan keyakinan tertentu. Jadi orang yang beragama adalah orang yang telah mengetahui risalah dan mengamalkannya. Dengan kata lain orang tersebut telah menjadikan Kitab Suci dari Tuhan itu sebagai panduan atau jalan hidup. Dia berbuat (beramal) sesuai dengan pesan yang ada di dalam risalah tersebut. Dia menjalankan hukum-hukum yang ada pada Risalah tersebut. Dari hasil memahami dan pengalaman pengamalan risalah akan menimbulkan keyakinan-keyakinan dan kepercayaan  seseorang.

Filsafat.

Berpikir berlangsung semenjak manusia ada di dunia. Proses berpikir walaupun dalam tingkat yang sederhana,  manusia pasti mempraktikkan hukum (pola) berpikir. Persoalannya….  Manusia itu kebanyakan tidak menyadari ia telah melakukan kegiatan berpikir (yang berpola). Dalam hal berpikir banyak cara yang dapat ditempuh. Berpikir yang seperti itu disebut berpikir alamiah atau logika naturalis. Manusia berkembang semakin kompleks. Perkembangan itu juga seiring dengan perkembangan permasalah kehidupan. Sejalan dengan itu manusia sering mengalami kesulitan yang komplek dalam melakukan olah pikir untuk menyelesaikan masalah.

Berpikir mengelolapengetahuan yang telah ada untuk menjawab persoalan
Berfilsafat merupakan proses menemukan pemahaman terhadap suatu realita. Memahami realita makasudnya adalah mengolah pengetahuan tentang suatu realita yang telah ada di dalam alam pikir.

Agar masalah yang komplek itu dapat terpecahkan secara baik dan betul, manusia berupaya membuat aturan-aturan  berpikir, hal inilah yang biasa dikenal dengan sebutan logika artificialis/logika buatan. Di dalam sejarah tentang aturan berpikir yang disusun secara sistematis berawal dari Yunani Kuno. Yunani orangnya pun telah mengusahakan  logika artificialis. Logika artificialis berkembang ke seluruh Dunia. Sampai sekarang dipelajari dimana-mana perguruan tinggi terutama dengan sebutan Logika (ilmu menalar). Penerapan Logika (ilmu menalar) pada disiplin tertentu melahirkan berbagai cabang filsafat, seperti Filsafat pendidikan, filsafat seni, filsafat moral dan sebagainya.

 Filsafat merupakan salah satu model cara berfikir cendekiawan Yunani. Bukan satu satunya model berpikir. Sebagai sebuah model, filsafat memiliki metode-metode dalam memahami sesuatu yang ada. Adapun metode berpikir tersebut antara lain, deduktif, induktif dan apriori atau spekulatif. Dari proses berpikir yang dilakukan itu akan lahir berbagai macam hasil berpikir yang disebut pemikiran. Dalam hal ini pemikiran yang dihasilkan itu disebut pemikiran filosofis. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa filsafat merupakan:

  1. Metodologi berpikir.

  2. Hasil berpikir (pemikiran).

Model lain dalam sistem berpikir untuk memahami apa yang ada di alam ini misalnya menggunakan Ilmu Mantik, Al Bayan atau Al Ma’ani. Model berpikir yang lain seperti Cinfociu di Tiongkok dan Maha Brata di India. Bahkan dengan berpikir secara tradisional, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan manusia di muka bumi ini, dapat memahami realitas secara baik. Demikian pula hasil berpikir, banyak ilmu atau pengetahuan yang tidak merupakan pemikiran filosofis. Sehubungan dengan itu, kita tidak boleh serta merta mengatakan “filsafat” satu-satunya jalan untuk memahami realitas secara mendalam.

Hubungan  Agama dengan Filsafat

Sekarang muncul pertanyaan…. Apakah ada hubungan filsafat dengan agama?  Jawabannya secara tegas adalah agama dan filsafat jelas tidak ada hubungannya. Namun filsafat dan agama dapat dan boleh dihubungkan. Agama dapat dipahami secara baik tanpa filsafat. Sudah jutaan umat manusia yang memahami agama Islam tanpa menggunakan filsafat. Memahami agama cukup dengan menggunakan akal dan pikiran. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya filsafat adalah salah satu motodologi dan pemikiran. Untuk dapat mengerti dan memahami sesuatu akal dan pikir memang memainkan peran sangat penting. Mulai dari sistem berpikir yang sederhana sampai kepada cara berpikir yang lebih komplek. Masyarakat Islam sering menggunakan Ilmu Mantik, Al Bayan atau Al Ma’ani, ilmu bahasa (Nahu dan Syaraf). Apalagi di dalam agama Islam dalam hal tertentu, manusia dituntut sami’na wa atha’na (dengar dan ta’at). Tentu saja dalam kasus yang seperti itu tidak dapat dimasuki oleh filsafat. Boleh jadi dalam hal-hal  lain kita dapat menggunakan filsafat untuk memahami ayat-ayat kitab suci (Al Quran). Pemikiran filsafat tentang masyarakat misalnya dapat digunakan untuk membantu memahami hukum yang ada di dalam kitab suci dalam menata kehidupan bermasyarakat. Tapi ingat hasil berpikir tentang ayat Al Quran itu tidak dapat di klaim sebagai pemikiran filosofi. Sebab filsafat dalam hal ini tidak menemukan (yang baru) akan tetapi menemukan bukti atau memperjelas konsep yang datang dari Tuhan.

Maka sangat kelirulah  cendekiawan muslim yang mengatakan bahwa Al Quran itu adalah kitab filsafat pendidikan yang paling besar.  Mereka kebanyakan tidak membedakan secara tegas antara pemikiran filosofis dengan  Risalah (berita dari Tuhan).  Bahkan mereka sering mengatakan “jika filsafat tidak dilandasi oleh agama tidak akan menemukan kebenaran sesungguhnya”. Padahal kebenaran bukan hanya agama saja, akan tetapi juga ayat-Ayat Allah atau fenomena alam yang ada di alam raya ini juga kebenaran yang tidak dapat dibantah adanya.  Jika berfilsafat tentang fenomena alam orang akan pasti menemukan kebenaran sesungguhnya walau tidak dipandu oleh agama. Misalnya dengan jalan mengamati dan merenugkan kehudupan umat manusia akan menemukan sebuah kebenaran; bahwa manusia hidup butuh makan dan minum.

Jika kita membuat sebuah ilustrasi, seperti sebuah spidol dan pembelajaran di sekolah. Apakah ada hubungan spidol dengan pembelajaran?  spidol dan  pembelajaran  jelas tidak ada hubungannya. Hanya saja kita boleh menghubungkannya dan boleh tidak.  Dalam proses belajar mengajar kita boleh (dapat) menggunakan spidol sebagai alat bantu untuk menulis di papan tulis. Gunanya untuk memudahkan anak menerima pesan guru atau pelajaran. Tanpa spidol proses belajar tetap dapat  berlangsung  secara baik. Spidol  hanya merupakan salah satu alat tulis yang dapat dipakai.

Semoga adapa manfaatnya.

 

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s