Politik Uang


Politik Uang, oleh Jalius. HR Tenaga Pengajar Universitas Negeri Padang

Politik Uang “Penting Untuk Perjuangan Umat Islam”

Tulisan ini dilatar belakangi oleh berbagai pendapat di dalam literatur tentang politik uang. Berbagai pendapat tersebut dapat saya rangkum sebagai berikut:

“Politik uang atau politik perut adalah suatu bentuk pemberian atau janji menyuap seseorang baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu pada saat pemilihan umum. Pembrian biasa dilakukan menggunakan uang atau barang. Politik uang umumnya dilakukan simpatisan, kader atau bahkan pengurus partai politik menjelang hari pemilihan umum. Praktik politik uang dilakukan dengan cara pemberian berbentuk uang, perlengkapan sekolah, sembako antara lain beras, minyak dan gula kepada masyarakat dengan tujuan untuk menarik simpati masyarakat agar mereka memberikan suaranya untuk partai yang bersangkutanPolitik uang sebenarnya akan menyebabkan nilai-nilai demokrasi luntur. Oleh karenanya, jangan sampai ada pihak yang seolah-olah mendukung politik uang ini. Politik uang harus tidak ada “.

Yang menjadi persoalan bagi penulis adalah pengertian politik uang tersebut hanya yang bernuansa negatif dan berkaitan dengan pemilihan umum saja.  Padahal politik itu sifatnya netral, artinya nilainya tergantung kepada penggunaannya. Jika penggunaanya untuk kecurangan berarti bernilai negatif, demikian pula sebaliknya, jika penggunaannya untuk mencapai kebajikan maksimal maka politik akan bernilai positif.

Politik

Aristoteles dapat dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan kata politik. Kata politik ditancapkan pada pengamatannya tentang manusia yang ia sebut zoon politikon. Dengan istilah itu ia ingin menjelaskan bahwa hakikat kehidupan sosial adalah politik dan interaksi antara dua orang atau lebih sudah pasti akan melibatkan hubungan politik. Aristoteles melihat politik sebagai kecenderungan alami dan tidak dapat dihindari manusia, misalnya ketika ia mencoba untuk menentukan posisinya dalam masyarakat, ketika ia berusaha meraih kesejahteraan pribadi, dan ketika ia berupaya memengaruhi orang lain agar menerima pandangannya.

Aristoteles berkesimpulan bahwa usaha memaksimalkan kemampuan individu dan mencapai bentuk kehidupan sosial yang tinggi adalah melalui interaksi politik dengan orang lain. Interaksi itu terjadi di dalam suatu kelembagaan yang dirancang untuk memecahkan konflik sosial dan membentuk tujuan negara. Dengan demikian kata politik menunjukkan suatu aspek kehidupan, yaitu kehidupan politik yang lazim dimaknai sebagai kehidupan yang menyangkut segi-segi kekuasaan dengan unsur-unsur kekuasaan (power), pengambilan keputusan (decision making), kebijakan (policy, beleid), dan pembagian (distribution) atau alokasi (allocation).

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem negara (kekuasaan) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Pengambilan keputusan (decision making) mengenai apakah yang menjadi tujuan dari sistem politik itu menyangkut seleksi terhadap beberapa alternatif dan penyusunan skala prioritas dari tujuan-tujuan yang telah dipilih. Sedangkan untuk melaksanakan tujuan-tujuan itu perlu ditentukan kebijakan-kebijakan strategis yang menyangkut pengaturan dan pembagian (distribution) atau alokasi (allocation) dari sumber-sumber (resources) yang ada.

Untuk bisa berperan aktif melaksanakan kebijakan-kebijakan itu, perlu dimiliki kekuasaan (power) dan kewenangan (authority) yang akan digunakan baik untuk membina kerjasama maupun untuk menyelesaikan konflik yang mungkin timbul dalam proses itu. Cara-cara yang digunakan dapat bersifat meyakinkan (persuasive) dan jika perlu bersifat paksaan (coercion). Tanpa unsur paksaan, kebijakan itu hanya merupakan perumusan keinginan (statement of intent) belaka.

Politik merupakan upaya atau cara untuk memperoleh sesuatu yang dikehendaki.  Dalam implementasinya bahwa politik tidak hanya berkisar di lingkungan kekuasaan negara atau tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh penguasa negara saja. Dalam banyak aspek kehidupan, manusia sering melakukan tindakan politik, baik politik dagang, budaya, sosial, maupun dalam aspek kehidupan lainnya. Politik dapat dijalankan pada pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Melepasakan diri dari kekuasaan orang lain juga perlu politik. Demikianlah politik selalu menyangkut tujuan-tujuan dari seseorang, organisasi atau seluruh masyarakat (public goals). Dengan kata lain politik menyangkut kegiatan berbagai kelompok, termasuk partai politik, korporasi, keagamaan dan kegiatan-kegiatan perseorangan (individu) lainnya.

Politik Uang.

Perlu juga dipahami secara baik, ” Politik uang” itu belum tentu bermakna negatif. Politik uang nilainya ditentukan oleh penggunaanya. Politik uang dapat merupakan bagian dari sistem kekuasaan yang dijalankan. Jika penggunaanya pada program jihad maka akan bernilai positif dan sebaliknya. Jika politik uang  dipahami secara populer adalah menyogok alias ruswah sungguh merupakan dalam pengertian sempit, sogok ( ruswah) salah satu bentuk politik uang yang di mainkan dalam pengertian negatif. Politik uang itu maknanya juga luas, hanya saja kebiasaan penggunaannya terbatas sesuai dengan tingkat pengetahuan si pemakai.

Politik pada dasarnya adalah berbagai upaya yang dilakukan untuk menjalankan kekuasaan atas sesuatu. Boleh jadi kekuasaan atas harta benda, kekuasaan atas tanggung jawab di dalam organisasi, bahkan sampai ke tinggkat negara. Hanya saja sering pemakaian politik pada tingkat negara saja. Pada hal jika dianalisis akan meliputi semua sistem kehidupan bermasyarakat (bernegara). Mengelola sistem keuangan untuk menunjang kegiatan sisitem yang lain tidak dapat dipisahkan. Pengelolaan keuangan merupakan bagian integral dari sistem sebuah lembaga (korporasi) atau kenegaraan.

Chairman Lippo Group Mochtar Riady (tengah) bersama Presiden Lippo Group Theo L Sambuaga (dua dari kiri) dan Mendikbud M. Nuh (kiri) saat menyerahkan “Bantuan bagi Mahasiswa Berprestasi” (BMB) 2013 kepada 10 Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta, Selasa (27/8/2013). Lippo Group memberikan BMB 2013 senilai Rp1,5 miliar kepada 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN). BMB 2013 merupakan salah satu bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) Lippo Group yang diberikan rutin setiap tahun.

Chairman Lippo Group Mochtar Riady (tengah) bersama Presiden Lippo Group Theo L Sambuaga (dua dari kiri) dan Mendikbud M. Nuh (kiri) saat menyerahkan “Bantuan bagi Mahasiswa Berprestasi” (BMB) 2013 kepada 10 Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta, Selasa (27/8/2013). Lippo Group memberikan BMB 2013 senilai Rp1,5 miliar kepada 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN). BMB 2013 merupakan salah satu bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) Lippo Group yang diberikan rutin setiap tahun.

Makanya politik uang sangat erat kaitannya dengan pengelolaan keuangan secara tepat guna dalam rangka mencapai tujuan-tujuan perjuangan, untuk efektifitas dan efisiensi strategi yang dijalankan. Jika kita berjuang (berjihad) mengembangkan (membangun) Islam…kita akan terlibat dengan uang atau barang berharga lainnya. Mau atau tidak kita akan mengelola penggunaan uang sesuai kebijaksanaan yang tepat. Pengelolaan keuangan suatu, organisasi, korporasi, masyarakat atau negara meliputi penggalian sumber dan pendistribusian uang. Pengaturan penggunaan uang atau barang berharga lainnya sasarannya banyak sekali, seperti untuk kepentingan konsumsi, pendidikan, untuk membeli perlengkapan, biaya perjalanan, menciptakan loyalitas sosial (terutama) dan sebagainya. Tidak tertutup untuk kepentingan santunan orang terlantar, mangasihi orang yang tidak mampu. Bahkan diperintahkan untuk membujuk hati orang untuk ingin menganut Islam (mu’alaf misalnya). Artinya penggunaan uang (harta) tidak dapat dipisahkan dari perjuangan jihad (secara menyeluruh). Jika orang Islam mengharamkan politik uang, camkanlah Firman Allah di bawah ini:

 

 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ

أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ [٤٩:١٥

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar. Hujurat 15

Sekaitan denga hai ini sebagian dari elit politik telah melaksanakan politik uang secara baik dan konsisten. Misalnya pada saat mengawali karir politik sering mengunjungi lembaga-lembaga pendidikan keagamaan (misalnya pesantren), mereka menemui Kiyai dan memberikan sejumlah uang sebagai sumbangan kepada lembaga untuk mendapatkan simpati. Mengunjungi tokoh pemuda dan memberikan bantuan kegiatan. Mengunjungi sebuah desa dan memberikan bantuan untuk pembangunan. Hasil yang diharapkan tentu saja tertanam budi baik di dalam hati sang pemimpin dan anggota masyarakat. Dampak yang diprediksi adalah adanya balas budi untuk dukungan suara dan restu.

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s