Susila dan Tuna Susila


Susila dan Tuna Susila oleh Jalius HR Tenaga pengajar Universitas Negeri Padang

Tulisan ini bermula dari materi pelajaran Filsafat Pendidikan. Dari berbagai literatur yang saya baca saya temukan pembahasan tentang dimensi-dimensi hakikat manusia yakni dimensi kesusilaan.  Di samping itu juga tugas-tugas mahasiswa yang bersumber dari berbagai penulis juga demikian. Pengertian susila itu saya rangkum  sebagai berikut:

Kata kesusilaan berasal dari kata susila yang mendapat awalan ke dan akhiran an. Kata tersebut berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu Su dan Sila. Su berarti baik, bagus dan Sila berarti dasar, prinsip, peraturan hidup atau norma.Kata Susila selanjutnya digunakan untuk arti sebagai aturan hidup yang lebih baik. Orang yang susila adalah orang yang berkelakuan baik, sedangkan orang yang tidak susila adalah orang yang berkelakuan buruk.  Pelaku zina (pelacur) misalnya sering diberi gelar sebagai Tuna Susila.

Selanjutnya kata susila (decency) dapat pula berarti sopan, beradab, baik budi bahasanya. Dan kesusilaan sama dengan atau mengandung makna kesopanan. Dengan demikian kesusilaan lebih mengacu kepada upaya membimbing, memandu, mengarahkan, membiasakan dan memasyarakatkan hidup yang sesuai dengan norma atau nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Kesusilaan menggambarkan keadaan dimana orang selalu menerapkan nilai-nilai yang dipandang baik dalam kehidupannya.

Sama juga halnya dengan moral, pedoman untuk membimbing orang agar berjalan secara baik didasarkan pada nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat dan mengacu kepada sesuatu yang dipandang baik oleh masyarakat.

Dari rangkuman di atas dapat disederhanakan susila sebagai “orang yang berkelakuan baik”. Konsep susila itu pernah saya diskusikan bersama mahasiswa di dalam mata kuliah Filsafat Pendidikan di Universitas Negeri Padang. Mula-mula saya bertanya kepada para mahasiswa peserta kuliah,  “pernahkah saudara membaca bahwa manusia itu adalah makhluk susila?” Mereka sepakat mengatakan “sering Pak”, jawaban mereka serentak.

Saya bilang ok…..Kemudian saya ajukan pertanyaan kedua, “apakah manusia itu baik semua?”. Mereka juga sentak menjawab “tidak Pak”. Kenapa tidak? Mereka menjelaskan satu persatu, bahwa banyak juga orang yang jelek. Kemudian saya menambahkan satu pertanyaan lagi, mana yang banyak orang  jelek dari orang yang baik? Mereka juga serentak menjawab “banyak yang jelek Pak”. Itulah yang kita maksud ke dengan tuna susila.

Kemudian saya menjelaskan persoalan manusia sebagai “makhluk susila” tersebut.

Walaupun kesusilaan itu dapat diberi skala dari  kurang baik sampai kepada yang sangat baik. Namun di dalam masyarakat kita hanya dikenal dua kutub perilaku saja yakni susila dan tuna susila. Pertama orang yang berperilaku baik (susila) biasanya disebut dengan akhlak mulia. Kedua orang yang berperilaku tidak baik (tuna susila), adalah perilaku yang tidak disukai oleh masyarakat. Di dalam kehidupan seharian masyarakat menggunakan kata tuna susila hanya tertuju kepada wanita yang selalu melakukan hubungan sex di luar nikah. Pada hal pengertian tuna susila (Immoral)  sangat luas meliputi semua perilaku yang tidak baik. Seorang yang pencuri juga termasuk tuna susila. Jika kita telusuri di dalam masyarakat, orang yang pencuri terdiri dari banyak sebutan. Misalnya menipu, merampok, mencopet dan ada juga yang disebut dengan nama korupsi. Makanya pejabat yang korupsi juga termasuk orang yang tuna susila. Jika ada seorang dukun yang kerjanya menyantet, maka dukun tersebut juga masuk kategori tuna susila. Hanya saja masyarakat kita tidak terbiasa menggunakan selain untuk wanita tuna susila.

Karena  itu manusia (perilakunya) tidak dapat kita simpulkan dengan sebuah pernyataan bahwa “manusia adalah makhluk susila”. Karena selalu ada dua kelompok bentuk perilaku manusia di muka bumi ini. Perilaku manusia yang baik dan yang jelek dalam jumlah yang sulit untuk diukur. Disamping itu juga perbandingan jumlahnya belum bisa dipastikan kelompok mana jumlahnya lebih besar. Persoalan susila atau tuna susila adalah merupakan jalan kehidupan yang dijalani seseorang. Kedua kelompok manusia itu selalu ada di dalam setiap masyarakat. Ada orang yang selalu berupaya agar ia jadi orang baik-baik (susila) dan sebaliknya mereka ada pula yang selalu menempuh jalan yang tidak diingini oleh masyarakat (tuna susila). Dengan kata lain menarik sebuah kesimpulan kita boleh hanya memilih salah satu dari dua fenomena yang ada.

Allah di dalam Al Quran telah mengingatkan kita dengan FirmanNya Qs.91:7 sebagai berikut;

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan (jalan) ketakwaan.

Itulah fitrah manusia, manusia dilahirkan pada masa bayi perilakunya belum bernilai apa-apa…. kedua orang tuanya yang memberi corak perilakunya terutama melalui pendidikan. Jelek atau baik perilaku manusia tergantung kepada (maunya) jalan yang  ditempuh di dalam kehidupannya. Kita dapat melihatnya di dalam masyarakat, ada orang menempuh jalan ketakwaan dengan segala sebutannya misalnya sebagai dermawan, pejuang, pendidik dan sebagainya. Demikian pula ada orang yang menempuh jalan pintas untuk cepat kaya, mereka merampok, korupsi atau manipulasi (itulah jalan kefasikan).

Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. QS 91: 7-10

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s