Berpikir Positif dan Negatif Secara Proporsional


      Tulisan ini dibuat dalam rangka memberikan tanggapan kepada banyaknya cendekiawan yang suka mengagungkan konsep “berpkir positif”. Orang  orang yang selalu mengusung konsep “berpikir positif”  menafikan konsep “berpikir negative”.

Pengertian Bepikir Positif dan Negative   (Oleh Jalius HR tenaga pengajar Universitas Negeri Padang)

      Bepikir positif adalah proses bepikir yang ber-kecenderungan menerima apa-apa (informasi) yang telah dianggap baik, buruk, betul atau salah oleh kebanyakan orang atau masyarakat. Cara berpikir ini tidak melakukan  analisa yang lebih mendalam dan menerima tanpa syarat. Pada umumnya orang yang berpikir positif ditandai oleh suka menerima berbagai pendapat walaupun berbeda-beda. Biasanya mereka suka bersikap (menghargai pendapat orang) walaupun belum jelas betul atau salah, baik atau buruknya suatu pikiran atau informasi.  Bahkan orang yang seperti ini tidak suka mempersoalkan jika informasi itu mengandung permasalahan. Gejala ini dapat dilihat pada karya tulis, misalnya mereka membuat (mengutip) banyak pengertian yang dikemukakan oleh para ahli….tetapi tidak dianalisa satu persatu…. Terus mereka membuat sebuah rumusan lagi seolah-olah merupakan kesimpulan yang positif (sebagai pembenaran).

     Bepikir negative adalah cara berpikir yang ber-kecenderungan meragukan sesuatu yang telah dianggap baik atau betul oleh kebanyakan orang dan masyarakat. Dengan kata lain orang berpikir negatif sering bersikap skeptis. Orang yang berpikir negative sangat kritis terhadap informasi (kepercayaan) yang ada pada kebanyakan orang atau masyarakatnya. Informasi yang diterima dianalisa secermat mungkin, hingga ditemukan hal-hal yang meragukan atau terdapat kebathilan di dalamnya. Jika mereka berhadapan dengan pikiran orang lain, dia akan selalu mempertanyakan keabsahan dan kebenarannya. Orang yang berpikir negatif akan berpikir sampai jelas hakikat atau esensinya. Setiap pernyataan selalu dikontrol atu dihubungkan dengan informasi lain…..kemudian barulah ia mengambil keputusan menolak atau mengakuinya.  Bahkan sering berujung kepada penolakan terhadapa keyakinan seseorang atau masyarakat tersebut. Jika ada suatu ketentuan atau keputusan selalu di diterima dengan berbagai syarat atau kesangsian. Gejala ini sering ditemui pada orang-orang yang membantah teori yang telah ada dan memunculkan teori baru sebagai penggtinya.

      Di dalam Al Quran dijelaskan   sikap seorang Muslim yang beriman harus berpikir  positif dan negative secara proporsional. Nah kisah Nabi Ibrahim mencari Tuhannya adalah merupakan contoh yang baik untuk itu.

            Memang dalam al Qur’an banyak dibahas masalah akidah, tentang keimanan dan  panjang lebar diuraikan contoh proses keimanan yang dilakukan Nabi Ibrahim as . Oleh sebab itu Nabi Ibrahim as dikenal sebagai Nabi aqidah, karena dalam  perjalanan spiritualnya Ibrahim mengalami proses yang sangat dinamis dan juga sangat mendasar. Dia berpikir dimulai dari sikap keragu-raguan.

      Seperti dijelaskan dalam surat Al Anbiyaa ayat  50-70. Dalam ayat itu dikisahkan proses Nabi Ibrahim membangun kesadaran masyarakatnya bahwa patung  (berhala) bukan Tuhan yang sesungguhnya, karena patung itu tidak bisa memberikan pertolongan, bahkan Ibrahim menunjukkan eksperimennya, dia hancurkan patung-patung itu  untuk membuktikan bahwa patung itu memang bukan Tuhan.

    Kemudian dalam surat Al An’am ayat 74-79. Di ayat itu diterangkan bagaimana Ibrahim mencari Tuhan dengan pendekatan yang jujur dan rasional, sehingga datang gelap malam tak ada satu pun manusia yang berkutik, tidak ada yang  memiliki kekuasaan lagi, semua kehidupan terhenti ketika datang gelap malam.  Kesimpulannya manusia dan alam semesta ini ditaklukkan oleh gelap malam dan pada saat gelap itu Nabi Ibrahim melihat sebuah bintang dan dia berkata inilah Tuhanku, tetapi bintang yang dipertuhankan itu lama kelamaan sirna. Dan Ibrahim melihat alternatif lain, ada bulan, inilah Tuhanku tapi bulan juga sirna .

   Apa yang terjadi pada Nabi Ibrahim? Ternyata dia gagal mencari Tuhannya. Dia gagal mencapai Tuhannya, dia tidak bisa meraih Tuhannya dengan indranya  dengan  matanya, telinganya, tangannya  bahkan dengan fikirannyapun dia mencoba membayangkan macam apa wujud Tuhan, Ibrahim gagal.

    Rupanya memang Allah itu Al Ghaib, suatu yang misterius dan Ibrahim memang  gagal mencapai Tuhannya dengan kemampuan yang ada pada dirinya. Tetapi untuk mengatakan bahwa Tuhan itu tak ada, justru pengalaman Ibrahim selama ini mengarahkan pada kesimpulan, mesti ada sesuatu yang mengendalikan alam ini, Tuhan itu mesti ada. Tapi yang mana?  Akhirnya Nabi Ibrahim  bersikap  sebagaimana terungkap dalam Q S. 6 : 79.

     Tapi dari situ Ibrahim hanya bisa mengetahui bahwa Dia, Tuhan itu tetap Gaib. Oleh sebab itu siapa Dia, sebagai zat dalam al qur’an juga tidak dikenal. Istilah istilah keTuhanan dalam alqur’an , hanya nama- nama yang menjelaskan sifatnya saja, zatnya tidak diperkenalkan (Asmaul Husna 99).

        Kemudian ada lagi 2 nama yang  menjelaskan tentang Dia, tapi menjelaskan tentang kedudukannya saja, Rabbun dan Ilaahun. Rabbun artinya pemilik dan penguasa, pendidik, pemelihara, pengendali, yang menjelaskan kedudukan dan Ilahun berasal dari kata Laha dan Ilaha yang berarti sesuatu yang abdi, yang dicintai, yang dikejar, yang diingini, yang didamba, yang diharap.  Jadi zat itu sendiri apa disebutnya? Memang ada satu istilah yang dalam  Al-Qur’an yang banyak dipakai yaitu Allah sebagai nama zat. Allah itu selain sebagai Tuhan alam semesta, dalam Al-Qur’an dijelaskan pula sebagai sifat dan kedudukanNya, sebagian lagi ada ulama yang menjelaskan, ada lagi nama yang menjelaskan sebagai isim yaitu Allah. Tapi soal ini sebagian ulama ada perbedaan pendapat.

Pertama dari sejarah, kalau dilihat kamus lisanul Arab, istilah Allah itu berasal dari Ilah, yang dicintai, yang diagungkan, yang dijadikan tempat bergantung. Jika demikian apapun bisa menjadi Ilah; yang dicintai, yang dikejar, yang didamba, segala yang diingin dan diharap itu namanya Ilah. Tetapi apakah yang segala diharap itu menjadi Tuhan alam semesta? Ya tentu tidak. Jadi ada Ilah subyektif, manusia yang menginginkan, manusia yang mendambakan, manusia yang mengejar, maka sesuatu yang dikejar oleh manusia itu jadi Ilah bagi manusia itu sendiri. Tapi apakah arti Ilah dalam arti sesungguhnya?  Belum tentu secara obyektif. Oleh sebab itu Ilah itu bisa menjadi banyak, jama’nya adalah Alihah, dia bisa berupa benda-benda, orang atau  ambisi jadi Ilah. Sehingga di kalangan bangsa Arab ada Ilah yang dikejar oleh manusia tapi fiktif, sekedar sesuatu yang diinginkan manusia saja, dicintai, dikejar, didamba manusia. Tapi ada Ilah yang sesungguhnya, memang Dialah yang diinginkan dan dikejar oleh manusia dan penguasa alam semesta. Ilah dalam arti  sesungguhnya itu dalam bahasa Arab mendapat awalan alif lam, jadi Al-Ilah itu Allahu (dalam pengucapan) lam diidghomkan.

            Tapi ada juga yang mengatakan bahwa Ilah itu isim jamad, nama dari zat Tuhan alam semesta ini. Tapi sebagian lagi mengatakan bahwa Allah ini bukan nama  zat Tuhan,  karena Allah berasal dari kata Ilah, sedangkan Ilah dan Robb hanya menjelaskan kedudukan.

    Jadi arti Allah itu sesuatu yang sebenar-benarnya dicintai, dikejar, didamba. jika itu yang dipakai,  nama sifatnyau ada, nama kedudukannya ada, Ilah dan Robb, lalu  terbentuk kata Allah (Tuhan). Lalu nama zat mana? Sebagian ulama mengatakan nama zat tidak ada. Kenapa? Karena penamaan sesuatu berarti pembatasan.

    Sebuah pena akan menjadi pena ditangan saya, jika bentuknya begitu dan fungsinya begitu, tapi pena sudah tergiling mesin giling, hancur, dia sudah tidak disebut pena, sudah berubah bentuk, warna dan zat. Sedangkan zat Allah Maha Tidak terbatas. Zat Allah tidak ada yang pernah mengenali, sesuatu yang tidak terhenti, terbatasi. Mana bisa dinamai, jika dinamakan berarti membatasi.

            Dalam ilmu Keimanan, maka Dia Yang Maha Kuasa, Tuhan alam semesta hanya bisa kita kenal:

  1. Sifat-sifatnya saja

  2. Kedudukannya saja, statusnya sebagai ilah dan robb

  3. Soal nama zat, sebagian ulama mengatakan tidak ada nama zat, sehingga dalam mengenali Dia, ada sebuah istilah dinamakan Huwa, Dia, Hu.

    Istilah Allah sebenarnya sudah digunakan orang Arab sebelum turunnya Al-Qur’an. Ayah Nabi Muhammad namanya Abdullah (artinya hamba Allah). Jadi orang Arab Quraisy itu sudah mengenal istilah Allah.

Tapi Allah itu bagaimana menurut orang Quraisy? Allah itu artinya ilah,

sebenar-benar ilah. Tuhan alam semesta, yang Dia adalah bapak dari 3 orang dewa wanita (perempuan) yang disimbolkan dalam bentuk patung Latta, Uzza, Manna yang disembah itu. Lalu turunlah ajaran Islam dengan surat Al-Ikhlas. Surat itu untuk mengcounter Trinitas,  mengcounter konsep Trinitasnya Quraisy juga Nasrani. images

      Kelebihan manusia itu mampu memilih. Kesadaran intelektualnya, kesadaran moralnya meyebabkan manusia bisa memilih. Dengan naluri ber-Tuhan itu kadang-kadang diarahkan pada bukan Tuhan yang sesungguhnya, belum lagi selain itu ada unsur hawa (kecenderungan-kecenderungan, keinginan-keinginan). Keinginan-keinginan itu bisa membentuk manusia sehingga tidak ber-Tuhan kepada yang sebenar-benarnya Tuhan. Tetapi Tuhan yang secara adhoc (secara singkat) nampak memberikan pertolongan, memberi manfaat.

     Misalnya pertolongan Tuhan tidak terlihat secara langsung. Sementara jika punya uang, pertolongan uang itu bisa jelas dan langsung kelihatan, maka orang sering terpeleset lalu memper-ilah uang, memper-ilah materi, memper-ilah pejabat yang punya kekuasaan. namun secara hakekat, secara substansial apakah betul uang itu memberikan daya tolong yang efektif? Sebenarnya tidak. Ternyata naluri ber-Tuhan terkalahkan oleh kecenderungan-kecenderungan yang rendah dan kepentingan sesaat. Allah mengingatkan orang beriman dengan firmanNya:

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka t idak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). Qs. 6 116 Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. QS. 2. 130

Namun demikian salah seorang filsuf Perancis Rene Descartes menggunakan gaya Nabi Ibrahim as. dalam mengembangkan pemikirannya. Dia berpikir secara negatif kemudian membangun sebuah thesis secara positif.

Descartes, kadang dipanggil “Penemu Filsafat Modern” dan “Bapak Matematika Modern”, adalah salah satu pemikir paling penting dan berpengaruh dalam sejarah barat modern. Dia menginspirasi generasi filsuf kontemporer dan setelahnya, membawa mereka untuk membentuk apa yang sekarang kita kenal sebagai rasionalisme kontinental, sebuah posisi filosofikal pada Eropa abad ke-17 dan 18.

Pemikirannya membuat sebuah revolusi falsafi di Eropa karena pendapatnya yang revolusioner bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir.

Dalam bahasa Latin kalimat ini adalah: cogito ergo sum sedangkan dalam bahasa Perancis adalah: Je pense donc je suis. Keduanya artinya adalah:

“Aku berpikir maka aku ada”. (Ing: I think, therefore I am)

Meski paling dikenal karena karya-karya filosofinya, dia juga telah terkenal sebagai pencipta sistem koordinat Kartesius, yang memengaruhi perkembangan kalkulus modern.

Ia juga pernah menulis buku sekitar tahun 1629 yang berjudul Rules for the Direction of the Mind yang memberikan garis-garis besar metodenya. Tetapi, buku ini tidak komplet dan tampaknya ia tidak berniat menerbitkannya. Diterbitkan untuk pertama kalinya lebih dari lima puluh tahun sesudah Descartes tiada. Dari tahun 1630 sampai 1634, Descartes menggunakan metodenya dalam penelitian ilmiah. Untuk mempelajari lebih mendalam tentang anatomi dan fisiologi, dia melakukan penjajakan secara terpisah-pisah. Dia bergumul dalam bidang-bidang yang berdiri sendiri seperti optik, meteorologi, matematika, dan pelbagai cabang ilmu lainnya.

Sedikitnya ada lima ide Descartes yang punya pengaruh penting terhadap jalan pikiran Eropa: (a) pandangan mekanisnya mengenai alam semesta; (b) sikapnya yang positif terhadap penjajakan ilmiah; (c) tekanan yang, diletakkannya pada penggunaan matematika dalam ilmu pengetahuan; (d) pembelaannya terhadap dasar awal sikap skeptis; dan (e) penitikpusatan perhatian terhadap epistemologi.

Karya filsafat Descrates dapat dipahami dalam bingkai konteks pemikiran pada masanya, yakni adanya pertentangan antara scholasticism dengan keilmuan baru galilean-copernican. Atas dasar tersebut ia dengan misi filsafatnya berusaha mendapatkan pengetahuan yang tidak dapat diragukan. Metodenya ialah dengan meragukan semua pengetahuan yang ada, yang kemudian mengantarkannya pada kesimpulan bahwa pengetahuan yang ia kategorikan ke dalam tiga bagian dapat diragukan.

1.Pengetahuan yang berasal dari pengalaman inderawi dapat diragukan, semisal kita memasukkan kayu lurus ke dalam air maka akan tampak bengkok.

2.Fakta umum tentang dunia semisal api itu panas dan benda yang berat akan jatuh juga dapat diragukan. Descrates menyatakan bagaimana jika kita mengalami mimpi yang sama berkali-kali dan dari situ kita mendapatkan pengetahuan umum tersebut

3.Logika dan Matematika prinsip-prinsip logika dan matematika juga ia ragukan. Ia menyatakan bagaimana jika ada suatu makhluk yang berkuasa memasukkan ilusi dalam pikiran kita, dengan kata lain kita berada dalam suatu matriks.

Dari keraguan tersebut, Descrates hendak mencari pengetahuan apa yang tidak dapat diragukan. Yang akhirnya mengantarkan pada premisnya Cogito Ergo Sum (aku berpikir maka aku ada). Baginya eksistensi pikiran manusia adalah sesuatu yang absolut dan tidak dapat diragukan. Sebab meskipun pemikirannya tentang sesuatu salah, pikirannya tertipu oleh suatu matriks, ia ragu akan segalanya, tidak dapat diragukan lagi bahwa pikiran itu sendiri eksis/ada.

Pikiran sendiri bagi Descrates ialah suatu benda berpikir yang bersifat mental (res cogitans) bukan bersifat fisik atau material. Dari prinsip awal bahwa pikiran itu eksis Descrates melanjutkan filsafatnya untuk membuktikan bahwa Tuhan dan benda-benda itu ada.

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s