Do’a Anak Shaleh Yang Keliru


Tulisan ini  berjudul “Do’a  Anak Shaleh Yang Keliru “  ditulis dalam rangka menanggapi sebuah hadist yang tidak relevan dengan konteks Al Quran. Do’a anak Shaleh yang keliru itu dimaksudkan adalah jika seorang anak mendo’akan ibu bapaknya baik yang beriman, kafir, munafik atau fasik, seperti ayahnya Nabi Ibrahim as. Sebagaimana anak shaleh (Nabi Ibrahim as) dan Ayahnya (sebagai orang fasik juga musuh Allah). Namun semua ulama menerima kesahihan hadis ini, yakni hadist dari Abu Hurairah r.a. bahawa Nabi Muhammad s.a.w bersabda sebagai berikut:

 “Apabila mati seorang Bani Adam (anak Nabi Adam as)  putuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang memberi manfaat kepada orang lain atau  do’a anak  yang soleh yang berdoa untuknya.”  (Hadith Sahih – Riwayat Muslim dan lain-lainnya)

Dalam hadis di atas (menurut mayoritas ulama) menerangkan bahawa apabila telah meninggalnya seseorang manusia, tidak ada  apa apa yang dapat menolongnya kecuali tiga perkara sahaja yakni;

  1. Sedekah Jariah. Segala bentuk sedekah bahan yang dikeluarkan oleh si mati semasa hayatnya seperti sedekah uang, makanan, harta benda lainnya. Dalam katogeri ini termasuk juga harta yang di waqafkan oleh si mati semasa hidupnya. Sebagai contoh seseorang itu mendirikan surau untuk kegunaan  masyarakat tempat tinggalnya. Selagi  surau itu di menfaatkan selama  itu pulalah pahala mengalir untuk si mati. Orang yang hidup atau waris boleh juga bersedekah bagi pihak si mati,  baik sedekah ituberupa  uang, harta peninggalan si mati atau  pewaris sendiri.  Yang pentingnya ialah niat  untuk bersedekah bagi pihak si mati. Amalan “waqaf” dalam Islam juga telah bermula semenjak zaman Rasulullah s.a.w. dan telah berkembang di negara-negara Islam hingga hari ini dan seterusnya, malah ada yang muncul membentuk “Kementerian Waqaf “

  1. Doa Anak yang Shaleh. Dan hadits terakhir ini sangat mahsyur dan patut di ketahui di hadits di atas itu “Do’a Anak Yang Shaleh/Shalehah” itu adalah salah satu amal yg tidak terputus, kalau tidak shaleh/shalehah maka jelas itu tidak termasuk, dan shaleh/shalehah disini tentu adalah anak yang beriman, taat kepada Allah dengan cara menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.

Selain dari doa anak anak yang soleh/solehah terhadap ibubapanya, doa antara sesama kaum muslimin pun bermenfaat untuk orang yang telah meninggal dunia.

Selain dari doa anak anak yang soleh/solehah terhadap ibubapanya, doa antara sesama kaum muslimin pun bermenfaat untuk orang yang telah meninggal dunia.

  1. Ilmu yang bermenfaat. “Ilmu yang berguna atau bermanfaat yang di ajarkan kepada orang lain,” yang tersebut dalam hadith ialah ilmu yang berhubung dengan ilmu agama dan ilmu kemajuan di dunia secara umum, sama ada melalui syarahannya, pengajaran kepada murid-muridnya dan orang ramai, atau melalui kitab-kitab dan buku-buku karangannya. Selagi ilmu yang diajarkannya atau kitab-kitab dan buku-buku karangannya masih wujud dan dinikmati faedahnya oleh umum maka ia akan mendapat pahalanya berterusan semasa ia hidup dan sesudah ia mati.

Di dalam hadis tertulis  di atas  ada kata  “Bani Adam”…… Bani Adam berarti anak cucu Nabi Adam as.  Artinya termasuk semua manusia. Di dalam  semua manusia itu ada kelompok muslim ada yang tidak muslim. Pada kelompok Muslim jumlahnya sedikit jika dibandingkan dengan non muslim. Jika penduduk dunia dewasa ini sekitar 7.5 milyar jwa, yang muslim cuma kurang dari 2,5 milyar.

Pada kelompok muslim hanya sedikit yang taqwa (beriman dan beramal shaleh), mayoritas mereka termasuk ke dalam kelompok munafiq atau fasik. Dengan demikian berarti bahwa sungguh sedikit orang-orang  Takwa atau orang-orang yang;  1) terpelihara dirinya untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangan-Nya; 2) ke- insafan diri yg diikuti kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangan-Nya; 3) kesalehan hidup). Hal ini berarti juga bahwa mayoritas manusia di dunia ini dalah kafir (termasuk kedalamnya musyrik dan fasik).

Sehubungan dengan itu (terhadap orang kafir, musyrik dan fasik), penting diingat dan dipahami secara baik  ketegasan firman Allah di dalam Al Quran yang menyatakan bawa:

  1. Katakanlah: “Nafkahkanlah hartamu, baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa, namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik.( At Taubah 55)

  2. Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (At Taubah 80)

  3. Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (At Taubah 84)

  4. Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.( At Taubah 113)

  5. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (At Taubah 114)

Pada hal Allah  mengabulkan do’a anak yang shaleh “hanya jika”  kedua ibu dan bapaknya juga seorang muslim yang baik (tidak termasuk kelompok munafiq dan fasik). Bukan hanya ibu bapanya saja tapi juga muslim yang lain. Tentu hal ini berarti bahwa seakan akan Rasulullah tidak bijak mengeluarkan pernyataan dan seakan-akan Rasulullah lupa pada ayat Al Quran yang dikutip di atas. Tentu saja ini suatu yang mustahil pada diri rasulullah.

Seharusnya Hadist itu jika memang dari Rasulullah menyatakan “jika meninggal seorang muslim atau orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh”…. Ya betul, memang yang dapat menolong seorang yang beriman adalah yang tiga perkara tersebut….(dalam artian masih ada dosa-dosa yang diperbuatnya  memang di luar kemampuannya untuk menghindar).

Namun masih ada lagi yang lain yang dapat menolongnya di samping yang tiga perkara di atas, yakni “Syafa’at” dari Rasulullah  sendiri.

Kemudian di samping itu lagi….seakan rasulullah tidak tahu bahwa jumlah orang yang sungguh beriman dan beamal shaleh sangat sedikit. Sementara pernyataan (hadist) tersebut meliputi semua orang (Bani Adam). Jika demikian …ya…gembira juga orang munafik dan fasik dengan hadis tersebut, jika dia (seorang) yang meninggalkan anak yang shaleh. Hal yang demikian merupakan hal yang mustahil pada diri Rasulullah.

Apakah memang  “hadist” itu di akui sahih, jika memang ya diakui sebagai hadist sahih berarti juga pengakuan itu mengandung makna bahwa Rasulullah itu “kurang cerdas“. Terutama dalam hal mengambil kesimpulan dan menggeneralisasi realitas yang sedikit menjadi lingkup yang besar jumlahnya dan validitasnya tidak cocok.

 Demikian saja semoga bermanfaa.

Semoga Allah selalu menunjukan kita jalan benar….

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

10 Responses to Do’a Anak Shaleh Yang Keliru

  1. Doa Nabi Ibrahim untuk bapaknya :

    وَاغْفِرْ لأبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ

    “… dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 86)

    Namun, permohonan Ibrahim itu ditolak oleh Allah SWT. Karena, orang musyrik, termasuk para orangtua yang musyrik tidak boleh dimohonkan ampun, karena sudah pasti dosa-dosa mereka tidak akan diampuni oleh Allah SWT.

    Lalu mengapa Ibrahim memohonkan ampun orangtuanya? Hal itu dia lakukan sebelum nyata baginya bahwa orangtuanya termasuk musuh Allah SWT, karena menyekutukan-Nya. Allah SWT menyatakan,

    وَمَا كَانَ استغفار إِبْرَاهِيمَ لأَبِيهِ إِلاَّ عَن مَّوْعِدَةٍ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ للَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ

    “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya.” (QS. Ibrahim: 114)

    Bahkan dalam ayat lain, Allah menyatakan sikap Nabi Ibrahim mendoakan orang tuanya yang musyrik dan kafir tidak layak dicontoh, “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia . . . . kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah.” (QS. Al Mumtahanah: 4)

    • Jalius. HR mengatakan:

      Terima kasih kunjungan Redaksi e-Newsletterdisdik Sumatera Barat di Blog Explaining ini, juga terimakasih atas masukan yang diberikan,…semoga semakin jelas status hadist yang kita permasalahkan dalam hubungannya dengan ayat-ayat Firman Allah. Kita harus menyatakan secara tegas bahwa Firman Allah lebih penting dari Hadist tesebut di atas. Hadist tersebut sangat cacat bahasa dan cacat logika (dalil).

      Semoga kita selalu diberi Hiadayah Oleh Allah.

  2. Abhie mengatakan:

    Maaf pak sekedar menanggapi,, saya kira bukan hadistnya yang salah,, akan tetapi orang yang membacanya yang menafsirkan keliru karena tidak disertai dengan ilmu yang cukup….

    Semoga Allah selalu menunjukan kita jalan benar….

    • Jalius. HR mengatakan:

      Terima kasih komentarnya….

      Saya berharap tolong jelaskan secara baik dimana salahnya saya memahaminya, jika sdr. termasuk orang jujur.

      Atas penjelasan Sdr. saya aturkan terima kasih
      Wassalam
      Jalius

    • Jalius. HR mengatakan:

      Ok…Tapi tolong tunjukan juga apa saja dan berapa jumlah ilmu yang dibutuhkan untuk memahami hadist tersebut…Jika abhi orang yang jujur.
      Wassalam dari Jalius.

  3. Ibrahim mengatakan:

    ini yang sedang saya amati, kedua orang tua saya malas shalat, sedangkan shalat adalah ibadah utama agama Islam, orang tua saya juga tentu punya orang tua, yaitu kakek dan nenek saya, dan sudah tentu mereka juga punya tanggung jawab atas kedua orang tua mereka, saya sendiri juga punya anak, yang dimana anak saya juga punya tanggung jawab mendoakan atas diri saya sebagai orang tua mereka, lalu bagaimana sistem pemberlakuan do’a itu, posisi kita kan sebagai anak tapi juga sebagai orang tua????

  4. Ibrahim mengatakan:

    saya menemukan jawabannya, berdoa merupakan sebuah kewajiban seorang hamba sebagai wujud pengakuan atas Tuhannya sekaligus bentuk kerendahan hati dan kerendahan diri di hadapan Allah, perkara apakah do’a itu dikabulkan atau tidak tentu Allah lah Yang Maha Mengetahui, berdoa merupakan sebuah ibadah, amalan yang memiliki pahala di sisi Allah. seperti halnya Sholat, apakah kita pernah tahu, sholat kita diterima atau tidak??? kita hanya bisa berupaya, namun sejatinya do’a dari orang-orang mukmin hanya berlaku bagi orang-orang mukmin pula…

  5. Ibrahim mengatakan:

    saya mendapat sedikit pencerahan, apabila mengacu pada orang tua dan anak, maka yang terlibat di sini adalah keluarga, dan bukankah seluruh manusia di bumi ini adalah berasal dari penciptaan awal yaitu Nabi Adam dan Hawa, yang itu artinya kita semua adalah satu keluarga, ini adalah ketetapan Allah, yang tidak ada satu manusia pun yang mampu merubahnya, “Allah akan memberi petunjuk kepada siapa yang Allah kehendaki, dan Allah akan membiarkan sesat kepada siapa yang Allah kehendaki” ini artinya, dalam sebuah keluarga, Allah menghendaki ada yang beriman dan ada yang sesat. ; “Apabila Allah menghendaki tentu Allah akan menjadikan seluruh manusia di bumi ini beriman. namun apakah kamu hendak memaksa mereka agar ikut beriman??? QS ; Yunus 99. dalam hal ibadah, memang bisa dilaksanakan secara berjamaah, namun pertanggungjawabannya tetap secara personal/individual ; “sesungguhnya aku bertanggung jawab atas apa yang aku kerjakan, dan kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu kerjakan”. jadikanlah Al Qur’an itu mutlak sebagai satu-satunya pedoman hidup kita, hadits itu kan adalah kata-kata para sahabat nabi, yang seolah katanya nabi berkata demikian. berbeda dengan Al Qur’an yang kebenarannya mutlak..

  6. Wahyu borneo island mengatakan:

    Bapak ibrahim dan bapak julius, kritik dan saran maupun artikel bapak sangat bagus , tapi dikit saya memohon kepada bapak 2 , sebelum mencantumkan alquran dan hadits nabi, baiknya dipahami lebih dulu tentang alquran dan hadist, alquran dan hadist di turun kan di tanah arab, haruslah kita mengerti bahasa arab, dan kita pun harus tahu sebab sebab, turun nya ayat, kapan diturunkan sebuah ayat baik ayat alquran dan hadits nabi muhammad saw, TRIMS,

    • Jalius. HR mengatakan:

      Tentu saja kita harus tahu bahasa Arab….harus bisa baca Al Quran…harus tahu Hadist Rasulullah.
      Jika tidak…tentu Bapak tidak akan bisa menulis seperti di atas.
      Makanya anda juga harus banyak belajar agar mudah memahami tulisan Bapak itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s