Riba Tidak dapat dihalalkan Dengan Mudharabah


Riba Tidak dapat dihalalkan Dengan Mudharabah; Oleh Jalius. HR Tenaga Pengajar UNP
Tulisan ini dibuat dalam rangka memeberikan kritikan terhadap fatwa sejumlah ulama yang menghalalkan Bunga Bank (riba) dan Asuransi terutama Bank dan Asuransi yang diberi label dengan kata “Syari’ah”. Karena kelebihan uang yang diterima oleh nasabah tidak termasuk ke dalam konsep jual-beli. Riba dan Jual-beli dua konsep yang saling berlawanan. Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Makanya harus ada ketegasan sikap terhadap kedua konsep tersebut.

Menurut bahasa atau lugat, pengertian Riba adalah ziyadah (tambahan) atau nama’ (berkembang). Sedangkan menurut istilah pengertian dari riba adalah penambahan pada harta dalam akad pinjam-meminjam. Dalam kata lain adanya imbalan atau pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal yang dipinjamkan.

Di dalam  Al Quran Riba dalam bentuk apa pun dan dengan alasan apa pun juga  dilarang oleh Allah SWT. Sehingga, hukum riba itu adalah haram. Firman Allah SWT dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan riba diantaranya yakni:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba Al-Baqoarah 275.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

 Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.  Al Baqoarah 278.

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Al Baqorah 276.
Allah tidak  akan merubah esensi suatu barang (ketetapan hukum) berdasarkarkan kesepakatan manusia atau fatwa para Ulama.

Terlebih dahulu mari kita mengambil dn memahami ayat al Qoran berikut ini sebaga sebuah hukum dalam mengambil sebuah keputusan.

مَّا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِّن قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ ۚ وَمَا جَعَلَ أَزْوَاجَكُمُ اللَّائِي تُظَاهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهَاتِكُمْ ۚ وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ۚ

ذَٰلِكُمْ قَوْلُكُم بِأَفْوَاهِكُمْ ۖ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).
 Ayat di atas sengaja dikutip untuk mendapatkan landasan berpikir dalam rangka mengambil keputusan. Memang ayat tersebut tidak behubungan langsung dengan hukum riba atau jual beli. Namun sangat penting dijadikan pedoman dalam memahami staus sebuah hukum yang telah ditetapkan Allah. Jika Allah telah menetapkan suatu hukum tidak seorangpun berwenang mengubah statusnya misalnya dari haram menjadi halal atau sebaliknya.
Dari dalam ayat di atas tersebut kita dapat mengeluarkan dan mengambil  dalil untuk dapat dijadikan sebagai landasan berpikir. Pertama; Allah tidak menerima pernyataan seseorang atau para ahli dalam satu esensi dibangun dua konsep. Seperti diisyaratkan di awal ayat di atas. “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya”, karena setiap manusia diciptakan Allah satu rongga dada untk satu hati. Kedua; dari kalimat “Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu (statusnya)“ atauDia tidak menjadikan anak-anak angkatmu (statusnya) sebagai anak kandungmu”. Esensi (hakikat) dari seorang istri tidak sama dengan esensi seorang ibu. Esensi dari anak angkat tidak sama dengan anak kandung. Walaupun diberikan pengakuan olek sesorang atau bersepakat sekelompok ulama untuk itu. Namun Allah tidak akan merubah ststus hukum yang berlaku di atasnya.
Dalam perkataan lain, Allah tidak akan menjadikan (merubah) esensi suatu barang menjadi esensi dalam bentuk  esensi yang lain berdasarkan “keinginan” seseorang atau kesepakatan banyak orang. Walaupun semua orang yang ada di dalam suatu masyarakat bersepakat untuk itu, walaupun dinyatakan pula dengan akte-notaris. Pada satu diri orang tidak akan dapat dinyatakan sekaligus atasnya status Istri dan juga status Ibu.

Demikian juga halnya dengan staus anak angkat dan anak kandung. Anak angkat sekali-kali tidak akan dapat dirubah emnjadi anak kandung dengan sebuah pernyataan atau kesepakatan.

Allah tidak akan merubah esensi  Riba menjadi jual-beli berdasarkarkan fatwa para Ulama.
Sebuah contoh yang sangat menarik yang terjadi di dalam masyarakat kita dewasa ini adalah banyak para ulama bersepakat menghalalkan Riba (manfaat tambahan dalam kegiatan utang-piutang atau pinjam meminjam). Seperti bunga yang ada di Bank Syari’ah dan kalim asuransi Lembaga Asuransi Syari’ah. Mereka menghalalkanya dengan menggunakan konsep “mudharabah”. Sehingga akibatnya Riba menjalani metamorfosis. Dalam hal ini Allah sekali-kali tidak akan merubah status Riba yang hukumnya haram menjadi halal hanya dengan fatwa ulama.
 Menurut istilah fiqih, Mudharabah ialah akad perjanjian (kerja sama usaha) antara kedua belah pihak, yang salah satu dari keduanya memberi modal kepada yang lain supaya dikembangkan, sedangkan keuntungannya dibagi antara keduanya sesuai dengan ketentuan yang disepakati. Artinya ada “keuntungan tambahan” yang yang disepakati. Keuntungan itu akan diterima oleh orang yang mnyerahkan modal. Jelas dalam hal ini tidak mengandung konsep jual beli.
Jika ada ulama yang berfatwa menghalalkan riba dengan alasan atau menggunakan konsep “mudharabah”,  itu di sisi Allah hanya sekedar perkataan belaka tidak memiliki kekutan hukum dari Allah… sebagaimana Allah telah menegaskan ”Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja” (Al Ahzab – 4 ). Artinya sebuah fatwa atau kesepakatan tidak akan merubah ketetapan Allah  merubah esensi riba (haram) itu menjadi halal.
Untuk mendapatkan tambahan (keuntungan) Allah telah menghalalkan jual-beli (tukar menukar barang yang berlainan jenisnya). Jual beli sekali-kali tidak sama dengan Riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Cermati dan fahamilah Firman Allah ini:

وَمَا آتَيْتُم مِّن رِّبًا لِّيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِندَ اللَّهِ ۖ وَمَا آتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). Ar Room 39.
Rasulullah juga mengingatkan kita ….”Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584)
Tidak ada sedikitpun wewenang manusia menetapkan hukum “haram” atau “halal” nya sesuatu. Sepenuhhnya adalah wewenang Allah.
Semoga berguna untuk pengembangan ilmu dan amal shaleh.
Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

20 Responses to Riba Tidak dapat dihalalkan Dengan Mudharabah

  1. Assalamualaikum, Pak Jalius, sebelumnya terima kasih sudah menjelaskan perihal Riba.

    Lalu, saya mohon pencerahannya. Jujur, asuransi itu saat ini saya pun memiliki kartunya dari perusahaan, bagaimana dengan hal ini? Apakah saya termasuk Riba ? Kemudian, bagaimana konsep jual – beli yang bisa jauh dari Riba ? Jika di matematiskan, berapa % seharusnya seorang penjual mendapatkan keuntungan dari suatu transaksi ?

    Terima kasih atas perhatiannya.

    Hormat saya,
    R. Fajar Rachmatullah
    0811203411 – 08881784903

    • Jalius. HR says:

      Jika Fajar menyimpan uang/meminjamkan uang pada orang lain (asuransi) nanti di kemudian hari Fajar mendapatkan keuntungan atau tambahan pemngembaliannya….itulah yang riba.
      Jika Fajar mau mencari keuntungan dengan uang (yang dihalalkan ) maka lakukanlah jual beli. Yakni mempertukarkan pemilikan barang atau uang dengan barang yang lain (lain-jenisnya).
      Yang namanya “jual-beli” tidak mengadung riba….Keuntungan itu sesuaikan saja dengan keadaan dan kewajaran. misalnya jika suatu barang ongkos angkutannya sangat besar tentu harga jualnya juga akan tinggi. berapa besar keuntungan ?…yang penting adalah jangan ada unsurunsur atau niat pemerasan.

      Pahamilah sebaik-baiknya konsep jual-beli dan konsep riba. Sehingga kita musah mengelompokan mana kegiatan ekonomi yang menjalankan konsep atau prinsip riba dan mana pula ynag merupakan kegiatan jual -beli.

  2. reza says:

    Assalamualaikum Pak Jalius,

    Pak terkait asuransi ataupun bank dengan embel “syariah” apakah itu mengandung riba dengan alasan logisnya bahwa kita sebagai nasabah dijanjikan imbal hasil di waktu mendatang?apakah baru bisa dibilang halal jika imbal nya disesuaikan dengan hasil perputaran uangnya, maksudnya jika suatu waktu hasil perputaran uangnya rugi maka tidak ada return yang dibagikan. Kita asumsikan bahwa dana yang dikelola diawasi oleh dewan syariah dan kita percaya mereka betul2 amanah dalam mengelola dana nasabah. Jika hal tsb masih mengandung riba, maka bagaimana jalan terbaik untuk mempersiapkan masa depan (biaya pendidikan, hari tua, dsb) karena mayoritas orang berprofesi sebagai karyawan yang mengandalkan gaji bulanan.

    Mohon penjelasannya

    Terima kasih

    Wassalam,
    REZA

    • Jalius. HR says:

      Yth Reza….Wa’alaikum Salam ww.
      Pertanyaannya sangat bagus dan sangat prinsip sekali.
      Tolong ananda pahami secar hati-hati konsep riba dan konsep jual-beli.
      Kemudian salah satu hukum yang juga Allah telah tetapkan dalam memutus perkara yakni ayat yang dikutip dalam tulisan di atas (Al-Ahzabayat 4 itu).
      Sebuah ketetapan Allah tidak dapat dirubah satatusnya dengan perkataan (kesepakatan).
      Maka apapun bentuknya kemasan Riba yang terkandung dalam embel-ember ” Syari’ah”…tidak akan menjadi halal.
      Wassalam.
      Jalius

  3. Vivi Nuril says:

    Assalamualaikum wr. wb.

    Sebelumnya terimakasih atas artikelnya. Membuka wawasan saya lebih dalam ttg Riba.
    Baru2 ini mulai hangat sekali isu ttg Asuransi yg hukumnya haram. Tidak semua muslim paham akan haramnya Asuransi. Begitu juga dgn saya. Krn isu hangat ini kemudian mencari tau dimana letak haramnya, dan Riba adalah salah satunya.

    Saya membaca di sebuah artikel bahwa ada solusinya yaitu dengan asuransi ta’awuni, dmn didalamnya mengandung tabarru’at (akad tolong menolong).

    Apakah Asuransi dgn embel2 Syariah yg ada di Indonesia semuanya memakai akad tabarru’at?

    *mungkin agak diluar konteks artikel, saya mohon maaf.

    Terimakasih.

    Wassalam,

    Vivi Nuril

    • Jalius. HR says:

      Jika keuntungan yang diperoleh tidak berdasarkan konsep jual-beli sudah jelas haram.asuransi ta’awuni hanya di mulutmu (kata-kata manusia saja)….di sisi Allah sudah jelas pedomannya. (tolong pahami lagi secara hati-hati artikel yang saya tulis itu. pahami secara baik dasar hukumnya.

      Wassalam Jalius.

  4. Assalamu alaikum wr wb.

    Terima kasih ulasannya Pak Darius mengenai riba InshaAllah sudah dimengerti.

    Menindak lanjuti mengenai Asuransi Takaful yang saya ikuti,

    saya ingin mendapat penjelasan mengenai akad yang saya pahami untuk klaim sbb.

    1. Dana klaim asuransi, diambil dananya dari Tabarru (dana gotong royong (dana yang kita setor dibagi menjadi 2 . 1. untuk Tabarru 2. Dana Investasi)
    2. Dana tabarru bukan dana milik Perusahaan Takaful, tapi dana yang khusus untuk kembali ke Peserta sebagai dana tolong menolong.
    3. Dana Tabarru dikembangkan oleh perusahaan dan keuntungan kembali ke Dana tabarru
    4. Nilai klaim / pemerima dana tabarru berbeda-beda sesuai dengan akad awal
    5. Penerima tabarru hanya anggota(hanya peserta asuransi)

    Apakah akad diatas termasuk akad yang dilarang ?

    Terima kasih atas penjelasannya
    Jazakallohu khairon katshiro

    Muchamad Sjaiful Bachri

    • Jalius. HR says:

      Yang penting dipahami adalah….bahwa keuntungan asuransi yang diperoleh…tidak sama dengan “jual-beli”.. Jika sudah beda dengan konsep jual beli….apapun kesepakatan tentang itu ( untuk mendapatkan keuntungan) sudah nyata tidak halal.

  5. mk fatah says:

    Assalamualaikum
    saya pegawai yg dijaminkan oleh perusahaan kepada asuransi untuk kesehatan.selain itu saya pun juga didaftarkan ke BPJS kesehatan.saya sdh banyak mendapat manfaat dari klaim itu jika sakit.bagaimana status manfaat yg saya peroleh dari asuransi tersebut.terimakasih
    wassalamualaikum.

    • Jalius. HR says:
    • Jalius. HR says:

      MK Fatah…..Pertanyaan saudara dapat dijawab sebb:
      Anda dijamin dengan asuransi oleh perusaahan…itu artinya Saudara menyimpan uang(melalui perusahaan). Uang itu bagian dari gaji Saudara (jangan lupa itu).
      Kemudian karena saudara sakit saudara memeperoleh obat….
      Itu berarti sama halnya dengan jual beli.
      Lain halnya jika Saudara menyimpan uang… kemudian di lain waktu Saudara mendapatkan uang (jumlahnya lebih dari nilai simpanan Saudara) itu tetap termasuk Riba.

      Semoga dapat dipahami secara baik.

      Wassalam…Jalius.

  6. مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ ۚ وَمَا جَعَلَ أَزْوَاجَكُمُ اللَّائِي تُظَاهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهَاتِكُمْ ۚ وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ ۖ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ

    Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).

    Kutipan dari Al-Quran: Al-Ahzaab (33:4)

    Kok saya bingung. Darimana ayat ini menerangkan soal riba’

    • Jalius. HR says:

      Terima kasih Hasyim…..Pertanyaannya penting sekali bagi semua orang yang membacannya.

      Ayat tersebut digunakan sebagai landasan hukum…khususnya dalam hal berpikir membuat sebuah keputusan. Dari ayat tersebut kita dapat mengabil sebuah landasan berpikir..yakni…sebuah pernyataan dari manusia tidak akan dapat merubah status “ketetapan” atau “ketentuan” Allah. Jika Allah telah menetapkan semua pekerjaan yang masuk ke dalam konsep riba, maka jika ada usaha yang berupa riba yang diharamkan itu (seperti pengelolaan Bank) sekali-kali tidak dapat dirubah menjadi halal dengan sebuah pernyaan oleh seseorang (termasuk Fatwa Ulama sekalipun).

      Jadi kaitannya sebagai rujukan berpikir dalam menetapkan pernyataan.
      Saya berharap agar renungkan kembali sampai menemukan makna tersebut di dalam ayat itu.
      Wassalam…Jalius.

  7. artikel yang sangat menarik sekali, terima kasih untuk berbaginya gan

  8. Purwanto says:

    Apakah kenaikan gaji yang kita peroleb juga riba ?, karena pada awalnya kita sdh sepakat dengan nilai awal kontrak kita , disini juga terjadi tambhan nilai, padahal job kita blm tentu berbeda dari sebelumnya….

    • Jalius. HR says:

      Hahahaa….Pertanyaanya menarik juga….cukup lama juga …baru terbaca.
      Tambahan gaji peroalannya agak beda. Tambahan itu tidak disyaratkan dalam perjanjian kontrak kerja (?).
      Kemudian kontrak kerja termasuk kedalam konsep jual beli….yakni mempertukarkan jasa dengan uang.
      Kalo Riba itu juga sangat jelas….kita membantu orang dengan uang atau sejenis barang (emas misalnya)…tapi ditunggangi dengan cari untung.

      Semoga ada manfaatnya
      Wassalam Jalius.

  9. Wahyu borneo island says:

    Jangan lah men justice dulu, sebelum dianalisa yg mendalam, apalagi diri sendiri belum bisa mengaplikasikan nya , baik buat diri sendiri,keluarga, dan masyarakat sekitarnya, satu pepatah gamak2 sabalun dikampo, kunyah2 sabalun dilulua, sekian bisa bermanfaat

    • Jalius. HR says:

      Komentar anda “Jangan lah men justice dulu”….Berarti ada pembelaan terhadap riba.
      Makanya bacalah secara baik dan hati-hati semoga anda mendapatkan pemahaman yang lebih baik

  10. indriana says:

    Assalamualaikum
    Apakah keuntungan dari saham “syariah” juga haram?? karena banyak sekali investasi2 yg di label halal. terima kasih
    Wassalamualaikum

    • Jalius. HR says:

      Jawabannya sederhana saja….Sahamnya tidak haram karena saham itu poko harta. Adakah saham Syariah itru sifat sama dengan jual beli ? Jika tidak berarti keuntungannya itu yang haram(termasuk kedalam riba).Wassalam Dari Jalius.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s