Konsep Syi’ah di dalam Al Quran


Tulisan ini sengaja dibuat dalam rangka menanggapi pemikiran yang berkembang di kalangan cendekiawan Muslim yang menyatakan bahwa Syi’ah itu bukan Islam dan sesat. Syi’ah itu sesat dan menyesatkan. Berbagai buku, majalah, surat kabar, media cetak lainnya serta vidio telah beredar secara luas untuk menyatakan Syia’h itu sesat. Sangat banyak para da’i dan mubaligh di atas mimbar secara lantang mengatakan kesesatan syi’ah itu. Mereka menyatakan Syi’ah itu berdasarkan fakta sejarah  semenjak Imam Ali ra. Itu artinya ada pemotongan rentangan sejarah. Seakan mereka lupa bahwa Syi’ah sudah dinyatakan oleh Allah semenjak Nabi Ibrahim as. Hal ini dapat juga dilihat di dalam Al Quran.

وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ

Dan sesungguhnya  Syi’ah-nya (Nuh) adalah Ibrahim. (As Shaaffat 83)

Kata “syi’ah” di dalam ayat tersebut  mengandung dua arti; pertama bermakna kelompok. Jika seseorang masuk kedalam kelompok tertentu, berarti bahwa sifat, keahlian dan keterlibatannya dalam kegiatan yang ditekuni kelompok terebut amat mantap. Karena biasanya seseorang tidak dimasukan ke dalam satu kelompok kecuali setelah memenuhi kriteria tertentu dan telah melalui seleksi. Jika seseorang termasuk kedalam kelompok orang yang beragama Islam, berarti dia telah diakui memenuhi ketentuan yang berlaku di dalam Islam. Demikian juga halnya dengan seseorang yang mejadi anggota kelompok Ikatan Dokter Indonesia, maka berarti dia di bidang kecakapanya telah diakui oleh semua dokter yang ada di dalam organisasi.

Di samping itu (jika sudah diakui sebagai anggota kelompok) berarti juga dia sudah dekat dengan anggota kelompok yang lain. Dalam hal ini Ibrahim sebgai Nabi dan Rasul Allah bersama Nabi Nuh as dan juga Nabi dan Rasul yang lain.

Kedua; kata ‘syi’ah’ di dalam ayat tersebut sangat jelas maksudnya yakni pengikut atau yang mewarisi agama  Nabi Nuh as. yakni agama Islam. Sehubungan dengan pewarisan agama Islam tersebut, Allah menjelaskan lagi pada ayat yang lain, yakni;

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ

وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ ٢:١٣٦

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. ( Al Baqarah 136)

Artinya agama Islam yang dikembangkan oleh para Rasulullah itu   pewarisannya secara turun temurun dari Nabi terdahulu kepada nabi berikutnya. Termasuk Nabi Muhammad SAW. Beliau Rasulullah Muhammad saw adalah pewaris agama Ibrahim as.

Ibrahim as telah dipilih oleh Tuhannya di dunia sebagai imam dan dipersaksikan di akhirat sebagai orang saleh. Ia dipilihNya Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, tunduk  patuhlah (masuklah ke dalam Islam)”, maka ia tidak menunda-nundanya, tidak ragu-ragu, tidak menyimpang, dan diterimanya  sepenuh hati  seketika perintah itu, Ibrahim menjawab, aku tunduk dan patuh kepada Tuhan semesta alam.

Inilah agama Nabi Ibrahim, agama Islam yang tulus dan tegas. Namun, Ibrahim tidak merasa cukup Islam hanya untuk dirinya sendiri saja, tetapi beliau tinggalkan juga Islam untuk anak cucu sepeninggalnya dan diwasiatkannya buat mereka. Ibrahim as mewasiatkan agama ini untuk anak cucu beliau dan Ya’qub juga mewasiatkan untuk anak cucunya. Ibrahim dan Ya’qub mengingatkan kepada anak cucunya akan nikmat yang diberikan Allah atas mereka karena telah  memilih agama Islam ini buat mereka;

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ٢:١٣٢

“ dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.

Agama Islam ini sudah menjadi pilihan Allah untuk manusia. Maka, mereka tidak boleh mencari-cari pilihan lain sesudah itu. Dan kewajiban pemeliharaan dan karunia Allah atas mereka itu, ialah mensyukuri nikmat yang dipilihkan untuk mereka dan hendaklah mereka sportif terhadap apa yang dipilihkan Allah itu, serta berusaha keras agar tidak meninggalkan dunia melainkan dalam keadaan tetap memelihara amanat tersebut, “Maka janganlah kamu mati melainkan dalam memeluk agama Islam.Inilah kesempatan yang bagus, telah datang kepada mereka seorang rasul yang mengajak mereka kepada Islam, seorang rasul yang merupakan buah dari doa yang dipanjatkan moyang mereka, Nabi  Ibrahim as.

Berikut Allah mengingatkan lagi:

وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ ٢:١٣٠  

“dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan Sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar Termasuk orang-orang yang saleh”.

Makanya yang perlu dipahami adalah, bahwa Umat Islam sekarang  juga sebagai “Syi’ah-nya” (mengikuti dan mewarisi) agama Muhammad Rasulullah SAW. Mereka wajib menjadikan Al Quran sebagai kitab sucinya, karena Al Quran itu berisikan ajaran agama para Rasul sebelumnya. Allah menegaskan lagi di dalam Al Quran hubungan kita dengan Nabi Muhammad saw  sampai ke Nabi Ibrahim as;

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا ۗ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ ٣:٦٨

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. (Ali Imran 68)

Tapi sayang sekali kebanyakan cendekiawan muslim tahu tentang Syi’ah hanya ditujukan terhadap orang-orang  atau sekelompok orang yang dianggap sesat bentuk pengamalan agamanya, terhadap orang yang dianggap sesat dan menyesatkan. Kebanyakan cendekiawan muslim hanya tahu tentang “syi’ah” berdasarkan cerita dan berita yang ditulis oleh orang tidak mengerti dan memahami Al Quran secara baik. Bahkan secara historis semenjak Imam Ali ra. Seakan tidak pernah tahu tentang konsep  ‘syi’ah’ yang ada di dalam Al Quran ini. Jika mau mencermati secara hati-hati akan kelihatan salah konsep dan terminologi tentang Syi’ah. Ada kesengajaan pemotongan sejarah. Saya yakin itulah salah satu sikap Yahudi sepeninggal Rasulullah. Selalau saja membuat cerita yang berlawanan konsep dengan Al Quran. Pada sa’at Rasulullah masih hidup tidak seorangpun di antara mereka yang mampu berhujah atau berdebat denan beliau. Jika masih saja ada orang yang mengatakan Syi’ah sesat dan menyesatkan….berarti mereka bersama Yahudi sangat lantang menista seorang Nabi dan Rasul Allah, Ibrahim as.

syiah

Dewasa ini terjadilah suatu keanehan. Jika seorang cendekiawan dihadapkan kepada Al Quran, ada yang mau mengakui surat As-Saffat ayat 83 itu, tapi jika dihadapkan kepada sejarah yang beredar di amsyarakat mereka serta merta mencela syi’ah sebagai kelompok orang yang sesat dan menyesatkan. Dua konsep atau substansi tentang syi’ah yang saling berlawan. Mereka tidak sadar pikiran mereka telah menyalahi hukum Allah dan logika. Ingat Allah tidah pernah menjadikan dua hati dalam rongga dada manusia. Seekor ayam di dalam kandang , jika dilepas ke luar ia tetap sebagai ayam.

Namun demikian kita harus hati-hati memahami konsep dasar Syi’ah dan memberikan tuduhan terhadap bentuk implementasi (pengamalan) agama Islam yang salah oleh orang tertentu. Waspadalah terhadap orang selalu mengatakan syiah itu sesat dan menyesatkan. Karena mereka tidak mampu membedakan antara ‘syi’ah’ (sistem pewarisan) dengan  “dhalal” (perilaku menyimpang).

Kita hanya wajib percaya kepada ayat Al Quran itu…..

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

5 Responses to Konsep Syi’ah di dalam Al Quran

  1. Wahyu borneo island says:

    Pesan satu artikel bapak, pemahaman piramida mesir, adakah dengan kisah nabi yusuf as

  2. Saya salut dengan kedalaman pemahaman ustad Jalius tentang Syiah, sehingga beliau menguraikannya begitu lengkap dengan dasar al Quran..
    Tetapi saya belum melihat satu kata pun tinjauan ustad Jalius tentang Syiah yang berkembang saat ini yang menjadi pembicaraan kajian bagi para ulama dan cendikiawan (saya rasa para cendikiawan itu tidak kurang pula ilmu al qurannya di banding ustad Jalius).
    Pada saat agama nasrani yang di anut pengikut nabi Isya..kita juga percaya dan yakin itu..
    Tapi samakah Nasrani yang diamalkan oleh pengikut nabi Isa dengan Kristen sekarang?..jelas tidak dan telah terjadi penyimpangan yang luar biasa, yang ustad Jalius pasti percaya juga kalau sdh terjadi penyimpangan itu..
    Begitu juga dgn Syiah saat ini…sdh terjadi penyimpangan yang luar biasa.. tdk sesuai lagi dengan ajaran Nuh dan Ibrahim..
    Saya usul sama ustad untuk tidak menutup diri membaca buku2 berkualitas lainnya terutama yg menyangkut dengan sepak terjang Syiah saat ini selain al Quran..
    Terimakasih…Wasssalam..

    • Jalius. HR says:

      Terima kasih Pak Salman yang telah berkunjung ke Blog Explaining ini.
      karena telah senang hati membaca tulisan saya di atas

      Yaaa betul…belum ada tinjaun tentang Syiah yang berkembang saat ini….
      Karena dibatasi oleh judulnya.

      Walau demikian perlu juga saya ingatkan, jika ada dalam pikiran pak Salman ada Syi’ah tempo dulu dan ada Syi’ah sekarang…itu berarti konsep Syi’ah telah berubah maksudnya, dan orang Islam sudah terjebak oleh sikap Yahudi yang diterangkan Allah di dalam Al Quran;

      يُحَرِّفُونَ ٱلْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ ۙ وَنَسُوا۟ حَظًّۭا مِّمَّا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ ۚ
      Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya. Qs.5.13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s