Syi’ah Dahulu dan Sekarang


Tulisan ini sengaja dihadirkan di sini dalam rangka menjelaskan sebuah kata (terminologi) yang telah dinista oleh sebagian Muslim, yakni kata “Syi’ah”. Penistaan itu dengan berbagai ungkapan seperti Syi’ah itu sesat dan menyesatkan. Kata Syi’ah kita temukan di dalam Al Quran di antaranya adalah di dalam surat As Saffat ayat 83.

وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِۦ لَإِبْرَ‌ٰهِيمَ    ٣٧:٨٣

Sungguh Syi’ah-nya(Nuh) adalah Ibrahim.

     Sepotong Ayat di dalam Al-Quran kelihatannya seakan-akan dilupakan oleh kebanyakan cendekiawan Muslim. Ada di antara mereka yang mengucapkan perkataan kepada saya … ‘itu hanya permaian kata’ .., tidak perlu kita serius membahasnya. Di dalam surat As-Saffat ayat 83 yang akan kita bahas di sini, disebutkan bahwa Nabi Ibrahim adalah “Syi’ah”-nya Nabi Nuh as. Bagi saya dan juga di sisi Allah walau hanya satu kata jangan dianggap enteng atau tidak berguna. Sebuah kata adalah penujuk suatu objek yang sederhana atau sebuah konsep yang rumit. Dari berbagai literatur yang saya abaca  (terutama tafsir), kata “syi’ah” berarti golongan atau kelompok dan di bagian lain ada yang mengatakan sebagai pewaris.

Jika kita jelaskan lebih lanjut dalam makna kelompok, Nabi Ibrahim as. sekelompok dengan Nabi Nuh as. yakni dalam arti  sama-sama sebagai Nabi dan Rasul.. Jika Nabi Nuh as. mengemban tugas mengembangkan syari’at Islam, maka Nabi Ibrahim as. Juga mengemban tugas yang sama, yakni sama-sama mengembangkan syari’at Islam. Ini bermakna lanjutan bahwa Nabi Ibrahim as. mewarisi peran dan tanggung jawab yang harus dijalankan oleh Nabi Nuh as.

sikap-yahudiKarena Nabi Ibrahim as. telah dinyatakan termasuk kelompok Nabi Nuh as. maka Nabi dan Rasul yang lain juga termasuk kelompok Nabi Nuh as yakni termasuk kelompok para Nabi dan Rasul. Dalam hal ini tentu mengandung konsekwensi lanjutan, yakni bahwa Nabi Muhammad saw. juga sebagai ‘Syi’ah-nya‘ Nabi Ibrahhim as. dan Syi’ahnya Nabi Nuh as. Dalam hal ini tentu saja semua Nabi selalu mewarisi syaraiat dan tanggung jawab yang sama di tengah-tengah umat.   Sungguh Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. Ibrahim berkata: “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam. (Wasiatnya juga sama).

Sesungguhnya para ulama adalah pewaris Nabi, maka ajaran yang di sampaikan oleh Rasululah juga menjadi tanggung jawabnya. Semua ulama mengemban tugas warisan yakni mengembangkan ajaran agam Islam.  Pada gilirannya tentu semua Muslim menerima warisan beliau yakni Syari’at Islam.

Persoalan lain yang perlu dipahami adalah, bagi kebanyak orang Islam mengakui ada kata “Syi’ah” sebagai sebuah konsep  di dalam al Quran…Seperti yang sering saya ingatkan di media sosial (Facebook), di dalam surat As-Saffat ayat 83; Kata “Syi’ah ” itu tentu maknan baik. Sementara itu muncul pula “konsep Syi’ah” sepeninggal Rasullah dalam pengertian lain, kata mereka (banyak cendekiawan Muslim) “Syi’ah” itu sesat dan menyesatkan atau mengandung makna tidak baik.
Berikut ini penulis kutipkan bebeapa pengertian Syi’ah yang berkembang setelah bermetamorfosis. Penulis mengambilnya dari website Belajar Isam, belajar Islam mengambil sumber dari  Dakwatuna.com                                                                                                             pengertian-syiah
Sehubungan dengan perubahan itu, coba hubungkan dengan sikap Yahudi yang diterangkan Allah di dalam ayat berikut ini;

يُحَرِّفُونَ ٱلْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ ۙ وَنَسُوا۟ حَظًّۭا مِّمَّا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ [٥:١٣

Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya (Al maidah 13)

Jelas sekali penistaannya, konsep Syi’ah dirubahnya dari kelompok orang yang baik (orang yang beriman dan bermal Shaleh) atau terminologi bernilai baik (+) ke pada orang yang menentang Allah dan Rasul atau terminoogi bermakna jelek (-).

Di samping adanya perubahan makna, terjadi pemotongan fakta sejarah….mereka hanya memulai pengakuan terhadap konsep syi’ah hanya setelah meninggalnya Rasulullah, saw. Fakta sejarahnya dimulai dari sang tokok yakni Imam Ali ra.

Muslim itu harus konsisten dengan semua makna perkataan Allah di dalam Al Quran….jangan sampai ada kata atau konsep dan pengertian yang ada di dalam Al Quran dirubah. Dalam perkataan lain Muslim tidak sewajarnya mengucapkan; ”Itu syi’ah dahulu”….dan ” Ini Syi’ah sekarang “.

Masya Allah.

 

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s