Konsep Pendidikan dan Pengajaran


Oleh Jalius. HR tenaga pengajar Universitas Negeri Padang.

Pendidikan merupakan sebuah konsep pekerjaan. Dalam konsep pendidikan  terdapat apa yang dikatakan mendidik. Mendidik mengandung makna yaitu serangkaian kegiatan yang harus dilakukan secara sistematis oleh seorang guru terhadap dan bersama anak didiknya. Tujuan yang ingin dicapai adalah anak sadar dan mau berperilaku sesuai dengan nilai dan norma masyarakat dimana anak tersebut berada. Sementara disisi lain pengajaran juga sebuah konsep pekerjaan. Dari konsep ini dapat dikeluarkan sebuah istilah kerja yakni mengajar. Secara sederhana mengajar disini diartikan sebagai serangkaian usaha-usaha yang dilakukan secara sistematis oleh seorang guru terhadap dan bersama anak muridnya. Adapun tujuan yang hendak dicapai adalah anak tahu tentang sesuatu dan terampil mengerjakan sesuatu.

Di sini titik awal dari suatu kekeliruan dapat kita ditemukan, yaitu mendidik dalam pengertian menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran anak untuk mau dan selalu berbuat atau berperilaku  baik, tentu saja sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat dikaburkan oleh pemahaman terhadap  pendidikan dalam pengertian memberikan sejumlah pengetahuan atau keterampilan kepada anak.

Pada masa orde lama kedua terminology tersebut sangat jelas dan sangat komunikatif dan reflektif. Maksudnya jika ada orang bicara tentang pendidikan, kebanyakan orang dapat mengerti maksudnya. Demikian juga jika ada orang bicara tentang pengajaran kebanyak orang akan musdah memahami maksudnya. Pengungkapanya sering bersamaan yakni pedidikan dan pengajaran. Bila disebut salah satunya, waktu saya masih duduk di sekolah dasar saja sudah bisa mengerti maksudnya. Orang –orang lain pun tidak sulit untuk saling mengerti.

Dewasa ini  terminology  pengajaran tidak popular, karena reduction. Sama halnya dengan istilah belajar dan mengajar, kedua istilah itu lebih komunikatif dan reflektif, telah direduksi oleh kebanyakan pakar pendidikan dengan istilah  pembelajaran. Hendaknya kita semua menyadari secara rasional bahwa mendidik dan mengajar konsepnya sangat berbeda. Tapi proses keduanya dapat dan sering saja bersamaan.

Dalam praktek mendidik dan mengajar kita akan menggunakan metoda dan alat bantu. Pendiakan dan pengajaran akan menggunakan metoda dan alat bantu yang berbeda. Untuk memperjelas persoalan ini akan saya kemukakan sebuah contoh. Barang kali setiap orang tua ingin putranya pandai shalat, maka beliau sang orang tua mengajar anaknya terlebih dahulu tentang bacaan shalat. Dalam waaktu beriringan anak juga diajarkan cara berwuduk.

Dalam proses belajar,  orangtua bisa saja membacakan kepada anaknya, satu kalimat demi  kalimat, kemudian diikuti oleh anaknya. Metode membacakan oleh orangtua dan didengarkan oleh anak, setelah itu diikuti dengan ulang mengucapkannya oleh anak. Setelah berapa lama, orangtua menyuruh anaknya menghafal bacaan shalat tersebut. Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah agar anak hafal akan bacaan shalat. Disamping itu dapat saja berbarengan dengan mengajarkan kepada anak cara mengambil wudhuk. Pada tahap berikutnya orangtua    melakukan praktek shalat bersama anaknya. Setelah melalui beberapa kali pertemuan kegiatan belajar, akhirnya anak  pandai dan mampu mengerjakan shalat. Dalam hal ini mungkin saja anak sudah berusia 7 atau 8 tahun.  Dalam rentang waktu tiga atau enam bulan saja pengajaran tentang shalat yang dilakukan oleh orangtua selesai. Maka pelajaran shalat sudah dapat dinyatakan bahwa pengajaran tuntas. Pelajaran dinyatakan berhasil, karena anak telah hafal bacaanya dan bisa melaksanakan pekerjaan shalat secara baik..

Selanjutnya, sebagai umat islam shalat harus dilakukan sebanyak lima kali dalam sehari semalam. Orangtua harus berupaya menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran anaknya  supaya selalu mau  mengerjakan shalat setiap hari bila waktu shalat telah tiba. Jadi usaha-usaha kearah itu dinamakan mendidik..

Contoh lain adalah, orangtua  mengajarkan kepada anaknya cara membersihkan halam rumah (linkungan). Mungkin yang akan diawali dengan mengumpulkan sampah  dangan alat bantu berupa sapu lidi dan kerajang sampah. Sampah yang telah terkumpul dibuang ketempat yang telah tersedia. Kegiatan lain yang dilakuakan adalah mencabut rumput dan lain sebagainya, kemudian membuangnya ketempat pembuangan sampah. Akhirnya pekarangan atau halaman rumah  menjadi bersih.

                            menyapu-halaman

Hanya satu kali atau dua kali pertemuan saja materi pelajaran berhasil disampaikan secara tuntas, anak mampu membersihkan halaman rumah. Sekarang muncul pertanyaan usaha apa yang harus dilakukan supaya anak mau selalu membuang sampah ketempat yang telah disediakan ?

Penulis yakin bahwa orangtua bisa memahaminya dengan cara baik bahwa konsep mendidik dan mengajar  berbeda, metoda dan alat yang digunakan juga berbeda, tentu saja ada aspek-aspek yang sama.  Jika kita melaksanakan pengajaran seperti contoh diatas di rumah atau di sekolah metoda yang kita gunakan boleh saja antara lain , metoda ceramah, metoda diskusi, metoda eksperimen dan yang lain. Sedangkan alat bantu adalah media dan alat peraga.

Lain halnya dalam kegiatan mendidik, baik di sekolah di rumah atau pun di dalam masyarakat, metoda yang digunakan adalah berita gembira dan kabar petakut (basira dan nazira ). Berita gembira disampaikan kepada anak adalah, jika seseorang selalu berbuat kebajikan semua orang akan menyenagi kita. Tuahnpun akan memberikan pahala. Selaliknya jika kita sering berbuat yang jelek berikanlah kabar petakut. Siapasaja yang berbuat jeleh semua orang akan membenci kita….Demikian juga tuhan akan marah kepada kita, baik di dunia dan juga di akhirat kelak. Sedangkan alat Bantu yang digunakan dalam mendidik adalah hukuman dan ganjaran. Khususnya dalam mendidik anak, jika anak yang rajin mengerjakan atau berperilaku yang baik diberi ganjaran. Ganjaran tersebut bisa saja bentuknya sederhana misalnya sebuah pujian dan bisa pula yang lebih komplit, misalnya hadiah berupa barang atau jabatan terhormat.

Sebaliknya, jika terhadap anak yang nakal atau tidak mau berbuat kebaikan diberikan padanya hukuman. Hukuman bisa berada dalam rentangan yang paling ringan sampai kepada yang paling berat penderitaanya…Biasanya hukuman atau sangsi sangat efektif diberkalukan terhadap anak asalkan tidak melampaui batas. Dalam hal memberikan sangsi boleh saja sangsi berupak hukuman mental atau hukuman fisik. Hukuman fisik (kekerasan) pada anak tertentu dan unruk jenis kesalahan tertentu ada kalanya sangat penting…..asalkan tidak dilakukan secara beringas.

Jadi dalam proses mengajar kemampuan guru atau seni guru menggunakan metoda dan alat bantu atau media sangat dituntut dalam hal kesesuaian dan ketepatannya. Penting sekali di perhatikan dalam kegiatan mendidik baik dirumah atau pun di sekolah adalah bentuk-bentuk perilaku anak. Dibina perilaku yang baik dan dicegah perilaku yang jelek dengan menggunakan metoda dan alat bantu pendidikan yang tepat seperti yang telah disebutkan tadi. Kedua metode itu diharapkan jangan sampai melewati batas kewajaran.

Demikian semoga dpat dipahami secara baik.

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s