Tujuan Hidup


Tujuan Hidup oleh Jalius HR Dosen Universitas Negeri Padang

 Apa Tujuan Hidup ?

       Pertanyaan tentang tujuan hidup sudah tidak terhingga ditanyakan orang. Terutama di dalam mata kuliah Filsafat dan agama. Bermacam-macam pertanyaan diajukan, misalnya, mengapa kita hidup ? atau  Apakah hidup kita  bertujuan? Apa tujuan hihup kita sesungguhnya ? Untuk apa kita hidup? dan lain-lain.

Banyak para ahli telah merumuskan tujuan hidup. Sebanyak buku yang saya abaca atau sebanyak ceramah yang saya dengar tentang tjuan hidup, setelah saya analisis, ternya belum ada yang pas.

Misalnya para ulama Islam menyatakan; “ Tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah (menyembah) kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta. Ketentuan itu di dasarkan pada ayat Al Quran, sebagaimana difirmankan Allah dalam Al- Qur’an Surat Adz-Dzaariyaat ayat 56 yang berbunyi: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia  melainkan supaya mereka menyembah-Ku” dan Surat Al-Baqarah ayat 21 yang mengatakan “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa”.

 Demikian juga para ahli Kitab menyatakan dengan nada yang sama tentang tujuan hidup manusia. Alkitab menunjukkan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk menjalin persahabatan dengan Allah.  Mereka menyandarkan argumentasi kepada beberapa kenyataan penting yang ada dalam Alkitab.

Allah adalah Pencipta kita. Alkitab mengatakan, ”(Allah)lah yang menjadikan manusia, dan bukan kita sendiri.”—>Mazmur 100:3; Penyingkapan [Wahyu] 4:11. Allah punya tujuan, atau kehendak, bagi semua ciptaan-Nya, termasuk kita.—>Yesaya 45:18. Allah menciptakan kita dengan ”kebutuhan rohani”, sehingga kita sangat ingin mengetahui makna kehidupan. (Matius 5:3) Ia ingin agar kebutuhan itu terpenuhi.—> Mazmur 145:16

Aristoteles di dalam bukunya yang berjudul Ethika Nikomacheia, atau Etika Nikomacheia, mencoba menjawab pertanyaan ini.  Argumen pertama Aristoteles adalah, bahwa setiap tindakan selalu mengarah pada tujuan tertentu, yakni yang baik itu sendiri di dalam bidang itu. Misalnya memasak. Memasak punya tujuan yang utama, yakni memasak secara baik, sehingga menghasilkan makanan yang enak. Menyanyi juga bertujuan untuk menyanyi dengan indah, sehingga bisa menghibur orang. Ini berlaku untuk semua tindakan manusia.

Aristoteles juga membedakan dua macam tujuan. Tujuan pertama adalah tujuan yang ada di dalam dirinya sendiri, yakni di dalam tindakan itu sendiri. Tujuan kedua adalah tujuan yang ada di luar tindakan itu sendiri. Contoh tujuan kedua adalah membersihkan pakaian, supaya pakaian terlihat bagus. Contoh tujuan pertama adalah, seperti diberikan Aristoteles, bermain alat musik flut, yang memberikan kepuasan pada dirinya sendiri.

Sebagai manusia, setiap orang juga punya tujuan tertinggi, yakni mencapai Eudaimonia. Biasanya, kata ini diterjemahkan sebagai kecukupan, atau kepenuhan hidup. Ini adalah tujuan tertinggi dalam arti ini merupakan tujuan terakhir manusia. Tidak ada lagi selain ini.

       Perlu analisis kembali.

Jika jika perhatikan kembali apa yang dinyatakan olrh para ulama Islam tentang tujuan hidup, mereka merujuk kepada ayat Al Quran “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia  melainkan supaya mereka menyembah-Ku”, Ayat tersebut sesungguhnya menjelaskan tujuan penciptaan manusia oleh Allah. Allah menciptakan manusia tujuannya adalah untuk mengabdi atau menyembah. Artinya manusia harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkanNya, baik secara sukarela maupun secara terpaksa.

       Jika kita lihat dari sisi manusianya, “untuk mengabdi atau menyembah” adalah merupakan kewajiban bagi manusia. Mengabdi bukan bukan keinginan manusia, akan tetapai adalah kehendak sang pencipta. Manusia harus mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan Allah. Misalnya manusia harus berjalan, harus berkata atau berkomunikasi, manusia harus makan, dan mausia harus melakukan banyak usaha untuk bereksistensi.

Menurut Aristoteles tujuan hidup adalah mencapai Eudaimonia yakni sebagai kecukupan, atau kepenuhan hidup. Artinya tercapainya Produk-produk usaha yang menunjang kelangsungan hidup manusia itu sendiri.

Tujuan hidup sesungguhnya adalah Bahagia.

Jika kita bicara tentang tujuan hidup manusia tidak lah terlalu sulit, asalkan kita mau mengerti apa yang ia usahakan. Tujuan selalu mengarah kepada hasil yang diharapkan. Setelah hasil diperoleh, manusia mau apa dengan penghasilannya itu. Jika manusia setiap hari sepanjang masa hidupnya selalu berusaha  ada produk yang dihasilkannya. Secara parsial dapat kita berikan contoh, becocok tanam di sawah, manusia mengharapkan perolehan berupa padi atau beras untuk dijadikan makanan. Hasil panen yang cukup dan melimpah juga sebuah harapan. Dengan berbagai produk usha mereka mengupayakan memenuhi berbagai keperluan untuk hidup.

Secara keseluruhan manusia selalu berusaha….mereka harus mengupaya mewujudkan keadaan yang kondusif setiap saat. Hidup pada kondisi yang selalu di sukai dan mendatangkan kenyamanan. Secara sederhana keadaan yang kondusif itu tidak lain adalah bahagia. Konsep bahagia adalah perwujudan dari situasi dan kondisi yang mengandung dua aspek utama, yakni rasa senang dan rasa aman. Perpaduan rasa senang dengan rasa aman tersebut menyebabkan tiadanya pilihan lainMuslim biasanya selalu mendambakan kebahagiaan itu untuk di dunia dan di akhirat.

Di dalam Al Quran dinyatakan dengan kata Hasanah;

فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً

Kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di Akhirat.

Untuk mencapai tujuan hidup itu ada dua hal yang perlu kita bedakan; yakni bahagia hidup di dunia dan bahagia hidup di akhirat. Untuk kita bisa bahagia jika hanya bahagia di dunia saja yang penting harus diusahakan adalah memenuhi (minimal) kebutuhan pokok dan menjalin hubungan social yang baik. Untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat manusia perlu menambahkan uapaya  menjalankan seruan Tuhan (agama)nya.

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s